Masyarakat dibuat resah oleh ramalan tentang datangnya hari kiamat pada 2012 setelah dirilisnya film “2012″ garapan Rolland Emmerich. Seketika itu pula berbagai tanggapan muncul baik dari kalangan agama maupun ilmuwan.
Tidak mau ketinggalan, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) memberikan penjelasan tentang fenomena alam yang akan terjadi pada 2012 mendatang. Untuk itu Lapan menerbitkan buku yang diedarkan kepada para guru di sekolah-sekolah.
“Sebagai lembaga yang melakukan penelitian di bidang keantariksaan, Lapan tergugah untuk memberikan gambaran tentang fenomena alam yang akan terjadi pada tahun 2012 itu,” kata Sri Kaloka Prabotosari, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa (Pusfatsainsa) Lapan dalam pengantarnya.
Buku yang terbit pada November 2009 itu berjudul “Fenomena Cuaca Antariksa”. Buku dengan tebal 35 halaman itu merupakan kerjasama Lapan dengan penerbit Puspa Swara.
Sebelum sampai ke pertanyaan inti mengenai benarkah bumi akan hancur dalam tiga tahun lagi, buku itu awalnya berbicara mengenai cuaca antariksa. Cuaca di langit jauh itu sangat berbeda dengan di bumi seperti adanya hujan atau salju. Cuaca antariksa adalah sebuah kondisi di matahari, lapisan udara magnetorfer serta ionosfer.
Cuaca antariksa dipengaruhi oleh aktivitas matahari yang memancarkan miliaran ton partikel, plasma berenergi tinggi serta gelombang elektromagnetik. Pemahaman baru inilah yang ditawarkan Lapan untuk memahami peristiwa yang akan terjadi pada 2012 mendatang. Bahwa pada tahun keramat itu yang terjadi adalah perubahan cuaca antariksa akibat meningkatnya aktivitas matahari.
Aktivitas matahari sendiri bisa berwujud flare atau Corona Mass Ejection (CME). Flare didefinisikan sebagai ledakan di matahari yang memancarkan radiasi gelombang elektromagnetik seperti sinar X dan Y. Radiasi itu dapat mencapai bumi dalam waktu 8 menit. Sementara CME adalah lontaran massa korona matahari. Jika diamati, CME seperti letupan yang menyembur dari matahari.
Bagaimana memperkirakan terjadinya badai matahari tersebut? Dijabarkan di halaman 8, aktivitas matahari dapat diukur dari kemunculan sunspot atau bintik hitam di permukaan matahari. Semakin banyak sunspot berarti makin tinggilah aktivitas matahari. Peningkatan itu membentuk siklus yang =
rata-rata muncul tiap 11 tahun sekali.
Nah, pada 2012 kebetulan matahari sedang mengalami puncak siklusnya yang ke-24. Itu berarti, flare atau CME, seperti halnya siklus-siklus terdahulu, diperkirakan akan banyak terjadi. Hanya saja teknologi yang ada saat ini belum mampu memastikan kapan waktu persisnya.
Kalau begitu, pertanyaannya kemudian adalah seberapa kuat dampak cuaca ekstrem yang timbul dari badai matahari itu terhadap bumi nantinya? Apakah planet ini dan seluruh kehidupannya akan hancur lebur?
Menurut catatan, tulis buku tersebut, ledakan paling besar sepanjang pengamatan terhadap matahari pernah terjadi pada Oktober hingga November 2003. Namun, badai itu tidak menyebabkan bumi hancur seperti gambaran mengerikan yang disuguhkan oleh film 2012.
Namun, dalam peristiwa enam tahun silam tersebut, ledakan matahari memang mempengaruhi lapisan magnetosfer dan ionosfer di atas bumi. Teknologi buatan manusia yang mengudara di lapisan tersebut, misalnya satelit, juga terganggu. Sayang, tidak dirinci contoh-contoh kerusakan satelit dan =
gangguan komunikasi yang terjadi akibat badai matahari tahun 2003 itu.
“Flare dan CME dengan intensitas besar jika mengarah ke bumi akan berdampak pada kondisi magnetorfer dan ionosfer. Dampaknya di magnetosfer adalah badai magnetik yang dapat merusak jaringan listrik. Sedangkan akibat dinamika di ionosfer adalah menganggu sistem teknologi komunikasi dan navigasi buatan manusia,” (halaman 27).
Bagaimana bila pada 2012 yang terjadi adalah super flare hingga menelan bumi yang ukurannya 1/13 ribu ukuran matahari? Dalam sejarah, belum pernah ada badai matahari yang maha dahsyat seperti itu. Bisa saja peristiwa itu terjadi, namun manusia di seluruh dunia belum bisa memprediksikannya.
“Terlepas dari isu kiamat 2012, cuaca ekstrem merupakan fenomena alam yang berdampak pada kehidupan manusia. Sekitar tahun 2012-2013, tingkat aktivitas matahari dapat memicu terjadinya cuaca antariksa yang ekstrem tersebut,” tutup buku tersebut.
Sumber: detik
Related posts:
- Kiamat 2012 Hanya “Pseudoscience” Masyarakat tidak perlu terpancing dengan isu kiamat 2012. Sebab, berdasarkan...
- Matahari Masih Malas-malasan, ‘Kiamat’ Mundur Tahun 2013 Tanpa mempedulikan ramalan tentang datangnya kiamat pada tahun 2012, para...
- Waspada Hujan Sampah Antariksa pada 2012 Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) mengingatkan masyarakat akan bahaya...
- Kiamat 2012, mungkinkah? Isu terjadinya kiamat tahun 2012 memang penuh dengan kontroversi....
- 10 Ramalan Kiamat yang Tak Terbukti Munculnya film 2012 yang didasari ramalan kiamat dari kalender...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.



Annang Mustofa
Posted in
Tags:










Kiamat sebenarnya rahasia sang pencipta. Bila ditentukan kapan pastinya maka manusia akan ketakutan nantinya. Kita hanya disuruh mempersiapkan diri untuk memenuhi kiamat kecil yang juga tidak tahu kapan terjadi. Salam kenal kembali
[Reply]
Annang Mustofa Reply:
December 12th, 2009 at 11:46 AM
Makasih pak sudah diingetin sama kiamat kecil
Annang Mustofa´s last blog ..Matahari Masih Malas-malasan, ‘Kiamat’ Mundur Tahun 2013
[Reply]
salam kenal juga bos
blognya bagus banget, jadi pingin nich
tx
[Reply]
Annang Mustofa Reply:
December 12th, 2009 at 11:47 AM
Makasih bos…
Annang Mustofa´s last blog ..Matahari Masih Malas-malasan, ‘Kiamat’ Mundur Tahun 2013
[Reply]
respon yng menarik………
[Reply]
Great detailed information, I ll be visiting you more frequently, here is very interesting information.
[Reply]
You gave fantastic honest ideas here. I performed a research on the issue and discovered almost all peoples will agree with your blog.
[Reply]